GKA Gracia

We Believe Sola Scriptura

GKA Gracia Gatotan

GKA Gracia Gatotan berdiri sejak 1981 dan tergabung dalam sinode GKA.
"Sola Scriptura, Sola Fide, Sola Gratia, Solus Christus, Soli Deo Gloria"

Me

Visi

"Jemaat Sehat Gereja Bertumbuh"



Tema

"Keluarga Sehat gereja bertumbuh"

Komisi Sekolah Minggu

Komisi yang berfokus pada pembentukan karakter anak-anak agar dapat tumbuh menjadi seorang anak yang mengenal dan mencintai Tuhan sejak usia dini.

Komisi Pemuda-Remaja

Tujuan utama dari komisi ini adalah mematangkan karakter dan pertumbuhan iman para remaja sehingga menghasilkan seseorang yang kuat dalam iman dan tidak mudah goyah menghadapi gelombang jaman.

Komisi Pasutri

Komisi yang dikhususkan bagi pasangan suami-istri untuk dapat membina keluarga sesuai dengan kehendak Tuhan.

Komisi Wanita

Komisi bagi para wanita untuk bersekutu bersama dan menjalin keakraban satu sama lain.

Komisi Usiawan

Komisi ini sebagai wadah bagi para usiawan untuk bersekutu bersama dan membina iman dalam usia yang sudah lanjut.

Komisi Musik

Komisi ini berperan dalam kegiatan musik gereja seperti paduan suara dan ensamble.







  • Kompetisi yang membuat aku belajar dari Yosua






    Matahari telah terbit, kicauan burung terdengar ditelingaku, hari yang sudah lama saya dan teman-teman nantikan telah tiba. Terbayang olehku hal-hal apa saja yang mungkin akan terjadi beberapa jam yang akan datang. Lekas aku bangun dan bersiap-siap, tidak lupa juga untuk bersaat teduh. Aku memeriksa pakaian yang kupakai dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan detail,  berharap tidak ada yang terlewat sedikitpun. Jangan sampai hari yang telah lama ditentukan ini hancur hanya karena ada sesuatu “kerikil” yang terlewat dalam pakaianku ini.

              Dalam perjalanan, aku mengendarai mobil hampir dengan keadaan setengah sadar. Telapak tangan dan kakiku masih terasa sangat basah, mengingat waktunya semakin dekat. Ini mungkin kali pertamaku mengendarai mobil dengan kondisi yang penuh dengan tekanan, beruntung ada seorang mama yang disebelahku yang menemani. Sesampainya ditempat yang telah disepakati bersama, aku dengan beberapa temanku melakukan pemanasan.

    Betapa terkejutnya aku ketika mencoba menyanyikan suatu bagian yang menurutku cukup mudah, malah aku tidak dapat menyanyikannya, entah lari kemana nada-nada itu. Suasana membuatku semakin panik. Memang ada yang bilang, kalau hari H itu tiba selalu ada faktor X yang tidak terduga. Tetapi tetap saja itu membuat aku terkejut. Setelah beberapa jam melakukan pemanasan, mempersiapkan properti, dan menggunakan kostum yang seragam kami pergi. Yup…untuk mengikuti kompetisi paduan suara di salah satu universitas ternama.

               Setibanya kami disana, kami sempat ditempatkan di beberapa ruang tunggu dan sungguh penampilan dari peserta-peserta sebelumnya sungguh mengintimidasiku dan juga teman-teman. Bahkan, sampai di panggung pun tatapan juri dan penonton seakan siap menghujamiku dengan peluru-peluru tak kasat mata jika kami melakukan kesalahan. Lalu, disitulah Tuhan ada dan Tuhan mengingatkanku pada bahan saat teduhku tadi pagi.

               Renunganku ialah Yosua 12, yang menuliskan daftar nama-nama raja yang dikalahkan oleh bangsa Israel dibawah pimpinan Yosua sebanyak 31 raja. Tuhan menyertai Yosua dengan sangat luar biasa.  Tetapi dibalik itu semua mungkin Yosua juga tidak akan mengetahui akan ada 31 raja yang dikalahkan,  bagaimana caranya untuk menang, mungkin juga tidak tahu cara menembus tembok yerikho yang berlapis 2 dengan tentara yang lengkap hanya dengan berputar.

    Entah apa yang akan terjadi, mungkin ia juga tidak tahu cara melawan prajurit terlatih dengan perlengkapan perang yang sedemikian rupa hanya dengan menggunakan mungkin pisau dapur, mungkin Yosua juga tidak tahu apa yang akan terjadi dan kemenangan atau kekalahan apa yang akan terjadi. 

    Tetapi yang ia tahu ialah Allah yang hidup yang memimpin dia, Allah yang selalu menepati janjinya, Allah yang tidak meninggalkannya sendiri, dan Allah yang melepaskan dia dari perbudakkan Mesir.

    Saat itu aku merasakan sebagian kecil dari perjuangan Yosua seorang tokoh Alkitab yang beriman besar. Ada banyak raja-raja yang ia hadapi, demikian pula ada banyak mata yang memandangku. Tetapi aku percaya Tuhan yang menolong Yosua melawan musuh-musuhnya, Tuhan yang sama pula yang berada disampingku, bahkan disampingmu.

               At the end kami memang dapat juara satu, do your best and let God do the rest. Tapi buatku itu lebih dari juara 1 dan best programme, aku bisa lebih mengerti Firman Tuhan dan pengalamanku berjalan dengan Tuhan semakin indah. Aku bukanlah seorang yang hebat, Aku bukan orang yang kuat, dan aku bukan orang yang tangguh, tetapi bersama Tuhan apapun dapat kulalui karena Tuhan besertaku dan besertamu juga. Tuhan selalu ada di setiap musim kehidupan kita, di saat kita takut, gugup, senang dan sedih, dan Tuhan yang sama yang selalu menyertai kehidupan kita. Kiranya kesaksian ini dapat menjadi berkat bagi pembaca sekalian. (J)

  • Ketika jawaban doa tidak selalu iya bagi manusia




    Shalom teman-teman, sebelum masuk ke ceritaku dan membagikannya pada kalian, kalian perlu tahu seperti apa diriku. Aku adalah anak perfectionist. Selama 12 tahun sekolah, aku berusaha mendapatkan nilai yang terbaik. Apalagi semenjak aku bertemu Tuhan, aku ingin memberi yang terbaik untuk Tuhan. Aku belajar hingga jam 12 malam, bahkan jam 2 pagi. Kerja tugas, aku berusaha berinovasi menjadi yang paling unik dan kreatif. Tidak lupa tugas itu aku cek berulang kali, siapa tahu ada kesalahan. Hingga mottoku adalah Work Hard feat God will never fail.

    Aku juga ingin membuktikan bahwa aku bisa berhasil tanpa melakukan kecurangan, karena Tuhan besertaku. Aku menolak keras menyontek. Aku menegur teman yang menyontek. Aku memberi ceramah kecil kepada mereka. Bahkan aku menghindari menyandung teman-temanku. Melakukan hal itu tidak membuat prestasiku menurun tetapi membuat diriku selalu mendapat ranking, bahkan tiga besar. Beberapa kali teman-temanku konsultasi atau bertanya bagaimana aku bisa melakukannya. Tidak jarang mereka bilang “Ya iya Tiff, kamu pintar, menolak menyontek bukan hal yang susah”, namun bagiku mereka salah karena selama ini aku juga bersusah payah belajar dan berdoa, bukan hanya modal kepintaran.

    Ternyata akulah yang salah. Berjalannya waktu aku sampai di kelas 12. Guru-guru mengajar semakin cepat, deadline semakin mepet, ulangan dan tugas berjejer saling bergantian. Tryout dan simulasi ikut mengisi hari-hariku. Disinilah aku mulai menyadari, bahwa aku salah. Ya, bahwa temanku benar. Yeah, work hard feat God sometimes will be fail (di mata manusia).

    Aku menyadari menjadi anak terang itu sangat susah. Tugas dan ulangan semakin tidak masuk akal, serta waktu yang tidak banyak membuat diriku dan teman-temanku tidak begitu mantap dengan materi yang diajarkan. Mungkin kalian belum memahami, biarkan aku memberi contoh.

    Saat ulangan, kami dibiarkan duduk bebas, otomatis anak-anak akan duduk dekat teman dekatnya. Dari mereka yang kelihatanannya diam hingga mereka yang ramai, semua menyontek karena mereka merasa aman di dekat temannya. Selama ini aku berusaha menegur mereka yang menyontek. Selama ini aku berusaha tutup telinga jika ada yang membisikan sesuatu. Namun.. bagaimana mungkin aku dapat menegur mereka semua? Bagaiamana mungkin aku yang tidak mantap dengan materi itu dapat mengalahkan kerja sama satu kelas? Lalu bagaimana mungkin, kami diberi tugas mendengarkan lagu bahasa inggris dua kali dan menulis liriknya. Mungkin itu hal terdengar mudah, tapi tidak mudah jika 95% anak kelas searching dan melihatnya di internet. Bagaimana mungkin aku yang tidak terbiasa mendengar bahasa inggris ini mampu mengalahkan ketepatan internet?

    Aku kecewa berat, aku under pressure, dan aku marah. Aku berusaha mati-matian menjunjung tinggi kebenaran di sekolah, tapi kenapa begitu susah mencapai yang aku inginkan? Aku tidak menyontek, tapi kenapa mereka yang menyontek justru diberi kesuksesan? Aku tidak berkata kasar, tapi kenapa mereka yang berkata kasar justru tidak dikucilkan? Aku menegur temanku yang menyontek tapi kenapa orang lain lebih mendukung yang mereka yang menyontek? Bukankah itu tidak adil? Bukankah itu paradoks? Mungkin bagi kalian itu hal sepele, hal kecil, tapi bagi aku seorang yang perfectionist, itu sangat menekan.

    Di satu titik aku ingin protes sama Tuhan, aku menangis dihadapan-Nya. Tetapi, semenit sebelum aku protes, aku sadar siapakah aku hingga berniat protes? Siapakah Dia hingga aku berani protes? Betapa stressnya aku hingga tidak dapat berpikir jernih dan sempat berniat protes pada-Nya. Apakah aku mau marah karena aku dikucilkan?

    Ah, mungkin aku lupa bagaimana Dia dihina, difitnah, bahkan diludahi. Apakah aku mau marah karena aku sudah cukup suci untuk marah? Ah, mungkin aku lupa dari mana aku berasal, dan siapa yang menyelamatkan aku. Apakah aku mau marah karena aku tidak mendapat yang setimpal? Ah, mungkin aku juga lupa bahwa anugrah keselamatan itu sudah aku dapatkan dengan sia-sia. Aku menangis sejadi-jadinya dihadapan-Nya. Bisa-bisanya aku mau marah pada Dia yang merasakan beban lebih parah dari pada aku? Bisa-bisanya aku mau protes pada yang seharusnya protes pada aku? Dan aku bisa mau protes pada Dia yang selama ini mencukupkan aku?

    Bersyukur sebelum protes aku telah disadarkan. Sadar akan siapa penciptaku, sadar akan anugrah keselamatan yang aku dapatkan, sadar akan penyertaan dan bimbingan yang selama ini aku terima, dan sadar akan seluruh talenta yang Dia percayakan padaku.

    Belum ada ending bahagia di kisahku. Bahkan jika kalian tahu Ujian Nasional 2018 (tahunku) adalah Ujian Nasional tersusah, kalian bisa search itu (sejauh ini). Aku tetap merasakan ketidakadilan, karena temanku mendapat paket yang lebih mudah dari pada aku. Aku tetap merasa under-pressure karena aku tidak bisa mencapai targetku.

    Tapi aku belajar bahwa aku baru memulai di kehidupan nyata, kehidupan di mana menjadi anak terang itu saaangaatt susah. Aku belajar bahwa tidak selamanya rencana kita sesuai dengan rencana Tuhan. Tapi aku percaya, rencana Tuhan adalah rencana yang indah.

    Kalau saja, maut dapat dikalahkan-Nya, apalah arti masalah sepeleku ini? Kalau saja, Dia mau menyelamatkan aku dari maut, bagaimana mungkin Bapaku itu mau menenggelamkan aku tanpa pertolongan?

    Aku tidak tahu apa yang Saudara alami, aku tidak tahu pergumulan apa yang ingin Anda protes. Namun, satu hal yang aku tahu, seorang Bapa tidak akan memberikan ular pada anaknya yang minta ikan. Seorang bapa tidak akan memberikan kalajengking pada anak-Nya yang minta telur. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga!. (Tiffany)

  • Saat Tuhan memberiku perkara untuk aku bertumbuh




    Sebuah pohon yang kuat dilihat dari seberapa dalam akar pohon tersebut menembus ke dalam tanah untuk mencari sumber nutrisi untuk menunjang pertumbuhan.

    Tahap pertumbuhan satu biji yang kecil  menjadi pohon yang kuat, dimulai saat biji tersebut melalui proses melepaskan kulit ari yang melekat,  menancapkan akar untuk tumbuh jauh ke dalam tanah.  Setelah 2 proses tersebut selesai, baru ada pertumbuhan batang pohon, daun, bunga kemudian buah yang bisa dinikmati.

    Disinilah kisah pertumbuhan iman saya, bagaimana Tuhan membentuk dan menumbuhkan iman yang gersang menjadi iman yang dapat memandang Tuhan sebagai air kehidupan. Iman yang menghidupi Tuhan dengan berjalan dan menggandeng tanganNya.


    Saya lahir di keluarga Kristen dan menjadi Kristen sedari kecil. Tidak sampai di situ saja, saya juga bersekolah di lingkungan Kristen dan rajin beribadah. Pengetahuan atas dasar iman kristen menjadi suatu hal yang pasti saya ketahui dan imani. Namun, saya tidak menyadari bahwa iman tersebut ternyata hanya sebatas pengetahuan. Saya tidak memahami arti pengenalan Tuhan seutuhnya dan Tuhan tidak seperti sahabat yang selalu dapat saya andalkan.

    Suatu ketika Tuhan menunjukkan kasih setiaNya dengan mengingatkan melalui teman,  jika saya mau bertumbuh, saya harus menetapkan pilihan saya. Saat itu saya memiliki persekutuan dan tempat beribadah yang berbeda. Persekutuan yang diadakan di gereja tempat saya beribadah bahkan ibadah pemuda-remajanya tidak pernah saya hadiri, hanya hadir saat pelayanan. Nasihat tersebut saya terima, tapi saya belum menyadari apa arti dari nasihat tersebut.


    Sampai suatu ketika papa saya meninggal dunia. Peninggalannya yang mendadak karena serangan jantung, membuat saya dan keluarga mengalami kedukaan. Pada saat malam penghiburan, saya banyak mendapat penghiburan. Penghiburan dari  teman di jurusan perkuliahan, teman aktivis, panitia dan organisasi mahasiswa dan terutama kunjungan dari teman di Pemuda Remaja di GKA Gracia yang mengena bagi saya secara pribadi.

    Sedari kecil, saya ikut sekolah minggu di GKA Gracia. Beranjak Remaja, saya dibaptis dan menjadi jemaat di GKA Gracia. Tetapi saya ikut datang ke gereja, mendengarkan Firman, dan ikut melayani sebagai pemusik di Gereja hanyalah sebagai suatu rutinitas.

    Sebuah kegiatan rutin yang saya belum mengerti secara penuh arti melayani apalagi bertumbuh.

    Mendapat kunjungan dari Pemuda Remaja GKA Gracia tidak serta merta membuat saya mengerti makna pelayanan dan pertumbuhan rohani. Tetapi kunjungan tersebut menjadi salah satu dari titik awal diri saya untuk mengalami pertumbuhan Rohani  yang menjadikan Tuhan sebagai kawan yang karib dan mendapatkan makna dari pelayanan kepada Tuhan. Tuhan menggerakkan saya untuk lebih aktif berpartisipasi di gereja terutama di komisi Pemuda-Remaja dalam titik balik tersebut  sampai hari ini.

    Seperti ada tertulis dalam Amsal 27:17
    ‘' Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya’’

    Pertumbuhan merupakan proses yang panjang dan sulit, namun proses inilah yang membuat suatu tumbuhan menjadi lebih baik dan bermanfaat karena buah yang dihasilkan.

    Demikian dengan pertumbuhan iman dan pengenalan Kristus, yang kadang akan melewati batu kecil, batu besar atau bahkan jurang  yang terjal. Tetapi tentunya hasil yang dihasilkan akan menyenangkan hati Tuhan dan bukankah itu menjadi tujuan setiap kita?. (Yessica)

  • Merasa Tuhan begitu jauh, namun Tuhan memberiku harapan baru dan mengangkatku kembali

    .post-body { line-height:1.8em; letter-spacing: 0.1px; }


    “Apakah lahir baru itu?”
    “Apakah aku sudah lahir baru?”
    “Kapan aku telah dilahirkan kembali?”
    “Apakah aku akan selamat, jika aku mati nanti?”
    “Apakah namaku akan tercatat di dalam buku kehidupan?”
    “Apakah Tuhan sudah masuk di dalam hatiku?”
    “Apakah Tuhan sudah menjadi yang terutama dalam hidupku?”

    Pertanyaan itu seringkali muncul di dalam benakku, sejak aku mulai datang ke Berlin bulan November 2016 dan seseorang memberikan pertanyaan “Apakah kamu akan diselamatkan, jika kamu mati nanti?” Aku merasa sudah Kristen sejak dari kecil. Di Indonesia, aku telah bertumbuh di lingkungan Gereja tetapi mengapa aku tidak bisa menjawab dengan yakin bahwa jika aku mati nanti aku akan bersama sama dengan Tuhan?. Hal ini seringkali menjadi pergumulan saya, kamu dan kita semua sebagai anak muda yang lahir dan besar di keluarga Kristen.

    Aku bersyukur di sekitarku ada orang yang menuntunku untuk mengerti apa artinya menjadi milik Tuhan, mempercayakan diriku di dalam Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai pemimpin dalam hidupku. Ternyata selama ini aku belum paham apa artinya semua itu. Aku merasa bahwa selama ini aku ke Gereja, pelayanan untuk Tuhan dan ingin memuliakan Tuhan hanya sekedar di dalam pikiranku saja. 

    KenyataanNya aku melayani di Gereja hanya untuk kepentingan diriku semata, aku ke Gereja hanya untuk bertemu dengan orang-orang saja dan yang lebih parahnya setelah aku pelayanan, banyak orang memujiku dan membuatku menjadi haus akan pujian dari manusia. Selama ini, aku juga berusaha untuk hidup kudus yang ternyata itu hanya karena aku ingin mengikuti aturan yang ada di Alkitab saja dan supaya orang melihat bahwa aku orang yang suci.

    Untungnya selama beberapa bulan ini aku menjadi lebih mengenal keadaanku yang kritis setelah menjalani PA (Pendalaman Alkitab). Hidup jauh dari asalku, membuat aku belajar bahwa semua manusia termasuk aku pada awalnya memiliki status dosa

    Di hari itu, aku belum bisa mengakuinya karena selama ini aku merasa bahwa aku telah berusaha untuk hidup kudus supaya aku tak berdosa. Tetapi kenyataannya semua orang termasuk aku telah berdosa sejak Adam dan Hawa memakan buah dari pohon yg telah dilarang Tuhan dan manusia tak bisa dengan kekuatannya sendiri mematahkan status dosa itu. Hanya dengan kasih ALLAH yang telah mengaruniakan anakNya yang tunggal untuk mati di kayu salib saja yang bisa mematahkan status berdosa manusia. Tetapi mengapa Tuhan mau melakukan itu? Karena Tuhan ingin kembali memiliki relasi dengan aku manusia ciptaanNya. Allah yang suci tak bisa bercampur dengan dosa, sedangkan aku sangat kotor dan penuh dosa. Oleh karena itu Ia rela memberikan AnakNya untuk mematahkan status dosaku dan kembali memiliki relasi denganku.

    Tetapi, mengapa Tuhan mau melakukan itu semua untukku dan bahkan untuk kamu? Pertanyaan itu kembali muncul. Bagaimana hidup yang ternyata penuh dosa, ternyata jawabannya adalah Tuhan mau mengasihiku dan Ia ingin semua orang termasuk aku diselamatkan.

    Di saat itu aku merasa hidupku masih kosong dan Tuhan tidak ada di dalamku. Di manakah Tuhan sekarang? Apakah Ia masih ada di luar hatiku? Tuhan mengapa aku merasa Tuhan masih begitu jauh? Di sinilah aku sadar, aku masih berdosa dan Tuhan tak bisa memiliki relasi yang baik denganku selama aku belum memiliki kerendahan hati untuk mengakuinya. 

    Aku berdoa, Tuhan ampuni segala kesalahanku dan aku ingin Tuhan hadir dalam hidupku. Itulah kerinduanku. Tetapi aku tak langsung mendapatkannya, aku terus berdoa Tuhan di manakah Engkau, aku rindu Tuhan hadir dalam hidupku. Aku terus meminta kepada Tuhan.

    Dan pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 aku bertanya pada seseorang “kenapa aku masih merasa Tuhan begitu jauh? Aku ingin Tuhan ada di hidupku.” Pada saat itu beliau berkata “ Kita bisa meminta pada Tuhan “ dan aku bertanya-tanya di dalam hati apakah mungkin kalau Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta. Tetapi beliau menjelaskan apakah alasannya Tuhan tidak mau memberikan itu. Tuhan mengasihi semua orang dan siapapun yang datang kepada Tuhan, Ia tidak akan membuangnya (Yoh 6:37). Dan disinilah beliau mendoakanku dan entah kenapa aku merasa ada yg menggugah hatiku. 

    Di dalam doa ini aku merasa Tuhan begitu baik denganku dan aku datang kepada Tuhan dan memohon ampun atas segala kesombonganku (bahwa aku mampu melakukan semuanya tanpa Tuhan) selama ini. Aku mengakui bahwa aku butuh Tuhan untuk menyelamatkanku. Lalu beliau bertanya “apakah kamu mau menerima Tuhan di dalam hidupmu?” di sini aku tak menjawabnya langsung, aku masih belum bisa berkata mau karena ada sesuatu perasaan yg membuatku tak bisa menjawab ya Tuhan, mungkin aku belum siap untuk menerima itu karena aku takut aku tidak bisa menjalankan rencana-rencana Tuhan yang tidak sesuai dengan harapanku dengan baik. 

    Tapi ada sesuatu yang mendorong dan mendesak dalam hatiku untuk aku menjawab “Ya Tuhan aku mau”. Disitu aku bergumul untuk menjawab “Ya Tuhan aku mau” Di dalam kekerasan hatiku ini, aku merasa ada suatu yang membuatku  menjadi lemah lembut dan akhirnya dengan tenang aku mengatakan “Ya Tuhan aku mau Engkau menjadi Tuhan dalam hidupku karena aku butuh Engkau untuk menyelamatkanku dan aku bersedia untuk Tuhan pakai.“ Setelah itu aku merasa begitu lega entah kenapa seperti ada suatu ikatan, yaitu dosa yang telah dilepas dariku.

                Setelah jawaban itu aku sekarang yakin bahwa Tuhan akan menyelamatkanku dan namaku akan tercantum di dalam buku kehidupan Tuhan. Ia akan menyambutku dengan penuh kasih nanti saat aku kembali berjumpa dengan Dia. Aku sangat bersyukur bisa memiliki Tuhan di dalamku dan aku ingin kembali ke tujuan awal Tuhan menciptakan manusia yaitu untuk memuliakan Allah. Aku sekarang bertekad bahwa apapun yang aku jalani hari ini bukanlah untukku lagi melainkan untuk Tuhan. 

        Dengan semuanya ini, sekarang aku lebih tenang akan masa depanku, karena aku tahu bahwa Tuhan menuntun, membimbing dan Ia akan selalu ada di setiap musim hidupku. Itu juga berarti bukan semuanya akan indah pada saat aku menjalani hari-hari ku, pasti Tuhan akan membentukku dan itu tak selalu hal yang menyenangkan, tetapi aku yakin Roh Kudus akan memberiku kekuatan. Mulai saat ini aku bersedia untuk dibentuk oleh Tuhan.

    Roma 3 : 23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kritus Yesus.”

    Yohanes 3: 16 “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

    2 Kor 5:15 tertulis “ Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan dibangkitkan untuk mereka”. (Petra)


  • Ketika aku memberi dan justru menerima

    .post-body { line-height:1.8em; letter-spacing: 0.1px; }


            Perkenalan akan Yesus sedari kecil hingga sekarang membuat saya terpanggil untuk melakukan pelayanan dengan jangkauan yang lebih luas melalui Perkantas (Persekutuan Kristen Antar Universitas). Awalnya saya mengambil komitmen melayani hanya sebagai seorang pengajar dari sebuah kamp, namun nyatanya  saya ditantang tidak hanya menjadi seorang yang hanya menerima berkat namun juga menjadi pembeda bagi lingkungan. Hal ini tentu saja sesuai dengan misi Allah bagi dunia ini khususnya menggunakan orang Kristen sebagai alat untuk memuliakan nama-Nya. 
       
         Saya tidak ingin lagi Kekristenan dicap sebagai sesuatu yang eksklusif yang tidak bisa dinikmati oleh orang yang bukan Kristen. Saya ingin membawa kasih itu keluar dari dinding gereja dan boleh dinikmati oleh banyak orang di luar sana.

    Saat itulah saya mulai terlibat untuk mengerjakan salah satu misi lokal yaitu les gratis Kenosis di Sidoyoso, Surabaya. Kami mengajarkan banyak hal dan materi yaitu Matematika, Ipa, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pelayanan ini ternyata memberi banyak pelajaran bagi saya, baik suka maupun duka. Suka ketika kami bisa bermain dan belajar bersama, melihat antusias dan semangat setiap anak, berlari-larian dan bercanda dengan para pengajar. Permen coklat yang saya bawa dengan harga seribu rupiah yang notabene mungkin nilai yang kecil bagi kita nyatanya dapat membuat anak-anak dengan raut muka yang polos menjadi semangat  dan bahagia. Hal itu membuktikan bahwa kebahagian mereka tidak perlu datang dari hal yang mahal dan sulit, tapi dari kesederhanaan. Serta banyak lagi momen-momen yang membahagiakan yang pasti banyak membuat saya terhenyak dan terkesan.

    Bagai koin yang memiliki dua sisi, demikian pula pengalaman tidak selalu datang membawa cerita bahagia namun juga ada cerita sedih dan sulit. Bagi saya kesedihan dan kesulitan saya adalah ketika saya harus belajar merendahkan diri dalam pelayanan ini. Latar belakang saya yang tumbuh dan hidup dari keluarga yang berkecukupan namun juga harus memberi diri di dalam pelayanan ini sejujurnya saya tidak terbiasa. Suatu kali murid saya muntah dan saat itulah saya harus membersihkan muntahan murid saya, tentu hal tersebut sangat jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari saya. Saya menyadari bahwa melayani Dia, saya harus melepas seluruh ego dan comfort zone. Saya juga banyak belajar melalui pengajar lain dalam beban mereka melayaniNya dan sungguh Tuhan telah memproses saya untuk menjadi pribadi yang lebih bertumbuh dan dewasa tidak hanya secara iman namun juga banyak aspek kehidupan.

    Meski sempat tidak terbiasa dan sulit, saya sungguh-sungguh bersyukur atas keputusan saya pada masa lalu untuk ambil bagian berkomitmen mengajar di Kenosis. Sampai hari ini saya merasa belum memberikan yang sepenuhnya dan masih banyak yang harus saya lakukan. Saya akan terus berusaha dan memproses diri saya untuk menjadi pengajar yang lebih dan lebih baik lagi. Saya juga merasa tidak memberi banyak namun justru saya merasa diberi banyak kelimpahan yaitu sesuatu yang jauh melebihi apa yang saya berikan. Pemberian yang berarti tidak selalu material, tetapi justru saya banyak diberi pembelajaran mengenai kehidupan, kebahagiaan yang tidak dapat dicapai melalui harta tetapi melalui cerita-cerita mereka yang saya pikir boleh menjadi kekuatan dan berkat bagi saya secara pribadi.

    Melalui pelayanan di Kenosis saya boleh sedikit mencicipi bagaimana Allah juga melayani manusia pada saat Ia turun dalam dunia mengosongkan diri, menderita dan mati diatas kayu salib. Kasih Allah inilah yang terus mendorong kami para pengajar untuk terus memiliki belas kasihan kepada mereka. 1 ayat favorit saya yang boleh menjadi kekuatan berasal dari Roma 10:13-15 

    Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.  Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

    Bagaimana mereka bisa mendengar kabar baik ketika orang Kristen hanya sibuk dengan pekerjaan mereka dan tidak ada yang mencoba menjangkau mereka?. Itu menjadi pergumulan dan penyuluh semangat saya secara pribadi dan kiranya juga menjadi pergumulan yang sama bagi setiap kita. Biarlah pengenalan akan Kristus dan kasihNya tidak hanya sebatas disimpan untuk diri kita sendiri namun dapat disebarkan melalui banyak orang melalui banyak cara yang Tuhan gerakkan. Tuhan Yesus memberkati. (Andre)

  • Luka terhadap orang tua ternyata membawaku mengenalNya

    .post-body { line-height:1.8em; letter-spacing: 0.1px; }


           Setiap orang di dunia ini memiliki masa lalu, entah itu baik atau buruk dan tidak sangka justru dari masa lalu kita dapat belajar banyak hal. Saya lahir dari sebuah keluarga Kristen yang sederhana, banyak nilai-nilai agama yang diberikan namun saya hanya mendapatkan itu sebagai sebuah konsep yang biasa dan saya tidak pernah benar-benar memahami apa itu kekristenan. Kekristenan hanya sebuah lalu saja ditambah dengan kebencian terhadap kedua orangtua. 

          Kebencian mulai merambat dan tumbuh sejak saya kecil terhadap kedua orang tuaku menjadikan saya lebih dekat dengan nenek dibanding dengan orang tua. Sebagai anak kecil yang sering membantah dan tidak taat, nenek saya sering mengatakan bahwa saya harus selalu taat padanya, karena ia bersusah payah untuk merawat dan menyembuhkan saya sejak saya lahir. Rupanya, orang tua saya sempat tidak menginginkan dan berusaha menggugurkan saya namun tidak berhasil sehingga saya lahir dalam kondisi kritis dan nenek sayalah yang merawat saya hingga saya bisa ada hari ini.

          Kalimat-kalimat seperti itu seringkali dikatakan, bukan hanya dari nenek saja tetapi juga dari beberapa rekan keluarga. Perkataan-perkataan yang menyakitkan dan kepahitan tertanam dipikiran dan hati saya sehingga kebencian terhadap orang tua semakin menjadi-jadi. Semua kebaikan, kasih sayang yang mereka lakukan dan berikan tidak pernah kuanggap baik. Saya selalu mengatakan di dalam diriku bahwa mereka tidak pernah menyayangiku bahkan sebelum saya lahir dan mereka hanya mengasihi saudara-saudaraku dan hanya nenekku yang sayang kepadaku.

          Kebencian terhadap orang tua berjalan terus hingga 20 tahun. Selama 20 tahun saya menjadi anak yang pendendam, mudah menyakiti orang lain, perkataan yang keluar dari mulutku adalah perkataan-perkataan kasar dan menyakitkan. Tahun demi tahun berlalu hingga suatu kali bagai disambar petir nenek yang paling kukasihi meninggal. Saya sangat terpukul, bukan hanya saja saya mengasihinya, tetapi saya menganggap hanya dialah yang mengasihi saya dan saya kehilangannya untuk selama-lamanya.

          Namun, semuanya berubah ketika saya di tawari untuk mengajar di sebuah pusat pengembangan anak (PPA) dan tawaran itu saya terima. Ternyata mengajar menjadi sebuah jalan bagi saya mengenal Tuhan secara sungguh-sungguh. Saya yakin bahwa itu waktu yang tepat Tuhan berbicara di dalam hidupku, saya yakin itu adalah waktu di mana Tuhan mau memulihkan hatiku yang terluka. Saat saya mengajar anak-anak, ada satu perasaan yang timbul di dalam diri bahwa kalau hidupmu tidak benar, kamu tidak bisa berdamai dengan orang lain, apa yang mau kamu ajarkan kepada anak-anak didikmu? Perasaan itu selalu menghantui saya dan saya memutuskan untuk menggumulkan hal itu. saya mulai membangun hubungan dengan Tuhan lewat doa dan pembacaan firman secara rutin. Setiap pagi saya akan berdoa satu jam sehari. Saya juga mulai aktif mengikuti doa puasa yang diadakan oleh persekutuan keluarga besarku. Saya dan mama adalah orang yang paling rajin mengikuti doa puasa.

        Setelah kepergian nenek, saya sering merasa kesepian dan menjadi anak yang pendiam dan penyendiri. Kamar menjadi tempat terbaik untuk menyendiri dan menangis. Satu kali ketika saya ingat kepada nenekku, saya pun menangis di dalam kamar. Mamaku mendengar tangisanku dan dia masuk ke kamar, dia duduk disebelahku dan dia menangis bersamaku, dia menghiburku, dia juga meminta maaf kepadaku untuk semua yang terjadi. Saya memang terhibur dan merasakan ketulusan dari setiap kata-katanya.

         Suatu kali saat waktunya kami mengikuti doa puasa, saya dan mama bertengkar kecil dan berselisih paham dan saya melukainya. Dia memutuskan untuk tidak pergi doa karena dia merasa tidak ada damai sejahtera. Saya dengan perasaan bersalah tetap ikut di dalam doa puasa. Tetapi sesungguhnya ada perasaan yang tidak enak dan mengganjal di dalam hati lalu saya pun berdoa. Di dalam doa itu saya menangis sekencang-kencangnya. Ada perasaan bersalah, menyesal atas semua yang terjadi. Bukan hanya untuk masalah pada waktu itu saja, tetapi di dalam doa puasa itu, saya seakan-akan di bawa kembali kepada masa lalu saya, saya diingatkan akan semua dosa dan kesalahan-kesalahan saya karena sudah membenci orang tua. 

          Tetapi di dalam doa itu saya merasakan ada sebuah perasaan lain, setelah saya menangis karena dosa saya, saya berdoa “Tuhan ampuni saya, saya mengasihi orangtuaku, saya sayang kepada mereka, ampuni saya” ketika saya mengatakan demikian, saya merasa seperti ada satu sentuhan yang berbeda, saya merasakan ada satu jamahan yang luar biasa, saya menangis di hadapan Tuhan dan saya merasakan bahwa Tuhan mengasihi saya, Tuhan mengampuni saya.

          Akhirnya saya didoakan oleh salah seorang saudara perempuan mama, mereka juga adalah hamba Tuhan. Setelah peristiwa itu, hidup saya benar-benar diubahkan dan digerakkan Tuhan. Saya yang dulunya pembenci, berubah menjadi orang yang suka mengasihi, saya yang dulunya suka berkata dan berperilaku kasar, lebih cenderung menjadi pendiam dan suka menasahati, saya yang dulunya mudah menyakiti, sekarang menjadi orang yang suka menolong orang lain. Saya benar-benar merasakan perubahan yang luar biasa di dalam diri saya dan saya menyadari bahwa bukan karena kuat dan hebat saya sendiri saya dapat berubah, namun hanya karena kasih Kristus sajalah. Saya terus diingatkan lewat firman Tuhan di dalam

    Yesaya 1:18 “sekalipun dosamu merah seperti kermizi akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” 

    1 Yohanes 4:11 “saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”

           Semenjak Tuhan mengubahkan saya itu, otomatis hidup saya juga berubah total. Saya yakin bahwa itu karena belas kasihan Tuhan yang tak terhingga di dalam hidupku. Saya semakin hari semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan bagiku. Hingga akhirnya saya menyerahkan diri untuk melayani Tuhan hingga detik ini. Doaku biarlah seumur hidupku, saya tetap di pakai Tuhan menjadi alat di tangan-Nya. (CW)
    ADDRESS

    Jl. Gatotan no. 17-19 Surabaya, Indonesia

    EMAIL

    gkagracia@yahoo.com
    gkagraciayouthcenter@gmail.com

    TELEPHONE

    +6231-3521719 (telp)
    +6231-3559902 (fax)

    MOBILE

    +6231-3521719 (telp),
    +6231-3559902 (fax)

    WEBSITE

    gkagracia.blogspot.com